Mitos Kaca Tempered

Seiring dengan perkembangan dan popularitas kaca tempered, sering timbul banyak sekali miskonsepsi dan mitos dari kaca ini.  Bagi kalian yang berkecimpung dibidang arsitektur, interior, dan kontractor, tentu saja sudah tidak asing dengan istilah kaca tempered. Memang patut diakui material ini adalah material yang sering sekali dipakai didalam suatu bangunan dengan aplikasi yang beragam, mulai dari kaca pintu, kaca kamar mandi, kaca railing, kaca partisi ruangan, dan lain sebagainya. Pada artikel kali ini kita akan membahas beberapa mitos tentang kaca tempered.

Mitos Pertama

Kaca Tempered dianggap sebagai sebuah nama jenis kaca, pada padahal ini salah kaprah, Banyak orang yang menganggap kaca tempered adalah kaca dengan raw material berbeda dengan kaca polos. Padahal sebenarnya kaca ini adalah adalah Kaca Polos yang sudah diproses lebih lanjut dengan sistem pemanasan dan pendinginan dalam waktu yang singkat sehingga kaca tersebut menjadi lebih kuat.

Baik kaca polos maupun kaca tempered itu menggunakan Raw Material yang sama. Bahkan bukan hanya kaca polos saja yang bisa diproses lebih lanjut dengan proses tempering, melainkan kaca extra clear, kaca sandblast, kaca acid etching, dan kaca bertekstur pun bisa diproses tempered.

Baca juga artikel : Kaca Tempered Bukan Solusi Utama Safety Glass

Mitos Kedua

Proses Tempering adalah satu-satunya solusi untuk menjadikan kaca menjadi Safety. Tempering kaca memang menjadi salah satu fungsi untuk meningkatkan kekuatan kaca dari segi benturan, suhu, dan fleksibilitas, serta membuat bongkahan pecahan kaca menjadi kecil seperti butiran jagung.

Maka dari itu semua orang beranggapan satu-satunya solusi Safety Glass adalah dengan di tempered. Namun, tidak semua aplikasi dapat mendapatkan solusi safety dengan di proses tempering. Contohnya aplikasi kaca di canopy itu tidak menjadi safety dengan di tempered, karena jika kaca tersebut pecah bongkahan butiran jagung tersebut akan melukai orang yang ada dibawah canopy.

Begitupula untuk aplikasi kaca di dinding, plafond, dan di jendela dengan ketinggian diatas 3 meter, jika kaca tersebut pecah, akan langsung melukai orang yang berada diarea tersebut. Sebenarnya solusi safety untuk aplikasi-aplikasi dicontoh tersebut bisa dilakukan dengan proses laminated dan security film, bukan dengan proses tempering.

Mitos Ketiga

Proses Tempering tidak mengubah penampilan dan karakteristik dari Kaca Polos. Meskipun secara kasat mata itu sulit dibedakan antara kaca mana yang sudah melewati proses tempering atau belum, namun secara teknis kaca yang sudah melalui proses tempering akan terlihat melengkung, sedikit bergelombang, dan juga berpotensi untuk terjadi spontaneous breakage (pecah secara mendadak).

Himalaya Abadi menyediakan berbagai macam produk kaca serta cermin dekoratif yang dapat digunakan sebagai material penghias interior. Atau bisa mengunjungi Authorize Distributor/ jaringan toko kaca kami Glassmart dikota terdekat.